Kita para pekerja mungkin ngeri sekai mendengar istilah PHK. Apalagi bila itu menimpa diri kita, yang hanya pekerja kecil. Seperti telah diperkirakan oleh banyak kalangan, krisis keuangan dunia yang menimpa Amerika akan diikuti gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara besar-besaran di berbagai belahan dunia. Setelah AS, Jepang terhempas dan negara-negara pengguna mata uang Euro. Krisis ini berpeluang melahirkan krisis multi dimensi di antaranya gejolak sosial di tengah-tengah masyarakat. Gelombang PHK semakin meluas, mulai dari sektor perbankan dan keuangan hingga sektor perindustrian, manufaktur, infrastruktur, jasa dsb. Di Amerika gelombang pengangguran telah mencapai titik tertinggi sejak 5 tahun terakhir, yaitu 6,7 %. Menurut Ian Shepherdson di High Frequency Economics, hanya dalam waktu 6 bulan AS telah kehilangan 1,55 juta lapangan kerja, hampir sama besarnya dengan resesi pada 2001 lalu. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat masih belum adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah dicanangkan pemerinta AS.
Selan itu, industri otomotif di AS juga akan merumahkan karyawan karena terancam bangkrut. Para eksekutif General Motors, Ford dan Chrysler dijadwalkan memberikan keterangan di depan konggres untuk menyelamatkan nasib mereka dan industri otomotif pada umumnya. Jika pHK massal di sektor otomotif terjadi maka angka pengangguran di AS akan semakin meningkat. Industri manufaktur kehilangan 61.000 pekerja. Bidang konstruksi kehilangan 8.000 pekerja dan kemungkinan akan bertambah. Retail kehilangan 20.000 pekerja. Akuntan, konsultan dan jasa hukum kehilangan 53.000 pekerja (CNN, 5/12/2008).
Di dalam negeri, ekspor barang-barang dari Indonesia menurun karena permintaan dari negara-negara maju yang juga menurun. Bahka ada yang menghentikan kontrak pembelian produk-produk industri garmen-tekstil, kayu dan produk perkebunan dari Indonesia. Akibatnya, pabrik harus menurunkan kapasitas produksinya, ada yang sampai 40%. Menurut Sofyan Wanadi, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo ), puncak PHK massal diperkirakan akan terjadi pada pertengahan 2009. Setidaknya 500 ribu hingga 1 juta orang akan kehilangan pekerjaannnya .
Yang lebih mengerikan lagi adalah efek samping dari gelombang PHK massal ini seperti yang dikatakan oleh Harvey Brenner. Menurutnya, setiap 10 persen kenaikan penganggur, kematian naik 1,2 persen, serangan jantung 1,7 persen, bunuh diri 1,7 persen dan harapan hidup berkurang 7 tahun.